Sebagai paduan besi dasar, ferrosilikon biasanya muncul dalam bentuk balok, butiran, atau bubuk berwarna abu-abu perak hingga abu-abu tua (keadaan bubuk akhir perlu dikontrol secara khusus), dengan kilau logam di permukaan dan bahan yang keras dan rapuh. Sifat fisiknya berhubungan langsung dengan kandungan silikon: semakin tinggi rasio silikon, semakin rendah kepadatan paduannya (kisaran umum adalah 3,5-5,15 g/cm ³), dan titik lelehnya juga menurun; Mengambil FeSi75 sebagai contoh, titik lelehnya adalah 1300-1350 °C, jauh lebih rendah dibandingkan besi murni yang mencapai 1538 °C.
Dari segi listrik, ferrosilikon memiliki konduktivitas yang baik, namun konduktivitas termalnya tidak sebaik besi murni. Dari segi sifat kimia, sifat paling penting dari ferrosilikon adalah reduksibilitasnya yang kuat pada suhu tinggi, terutama karena kecenderungan unsur silikon untuk menyumbangkan elektron, yang memungkinkannya mengalami reaksi hebat dengan zat non-logam seperti oksigen dan belerang. Besi silikon relatif stabil di udara bersuhu ruangan, tetapi varietas silikon tinggi (seperti FeSi75) secara bertahap akan teroksidasi di permukaan dalam lingkungan lembab dan dapat melepaskan sejumlah kecil gas hidrogen, sehingga menimbulkan risiko pembakaran spontan. Oleh karena itu, pencegahan kelembaban yang ketat dan penekanan penghancuran diperlukan selama penyimpanan dan transportasi.
Ferrosilikon tidak larut dalam air, tetapi larut dalam asam kuat seperti asam fluorida dan aqua regia. Ketika dilarutkan, ia membentuk silikat dan melepaskan gas hidrogen. Berdasarkan kandungan silikonnya yang tinggi, ferrosilikon sering digunakan sebagai zat pereduksi termal logam dalam proses peleburan logam seperti magnesium, karena kemampuannya dalam mereduksi. Singkatnya, pemahaman mendalam tentang berbagai sifat fisik dan kimia ferrosilikon merupakan prasyarat mendasar untuk mencapai penggunaan yang aman dan optimalisasi kinerja.